Untitled

May 15th, 2008 by raininjanuary

Terima kasih atas rasa yang kau beri

Rasa yang tidak menuntut asa

Rasa yang tidak memberi pedih di hati

Karena hanya cinta lah yang kurasa

Terima kasih atas indah yang kurasa

Indah yang tak menuntut balas

Indah yang tak ternoda air mata

Cukup indah yang membawa gelora di hati

Tenang saja cinta, aku tak akan menangis

Meski ku merasa cinta ini sendiri

Aku tak akan menuntut balas

Atas rasa yang agung indahnya

Tak apa kumenikmatinya sendiri

Tak ingin nodai bahagia ini dengan duka

Tetaplah di

sana

cinta

Biar ku menikmati indah hadirmu

Tak perlu mendekat

Tak perlu membalas

Tak apa jika kau belum siap merasa

Aku akan tetap di sini

Bukan, bukan untuk menanti

Bukan untuk menunggu balasmu

Tapi untuk menikmati rasa ini

Karena rasa ini terlalu indah tuk diabaikan

Just Hold Me Close

February 21st, 2007 by raininjanuary

As the night falls off the sky

And the sun stands up to rise

I walk away and say goodbye

Shed away the tears from my eyes

It may seems easy to let go

It may seems easy to move on

But you don’t know that my heart say no

That it wants to stay and hold on

If only there’s a second chance of love

Please open up and don’t waste my love

If only you had a heart to forgive

Just hold me close, coz for u I live

My mind might tell me to leave and let go

My sanity might urge me to find another love

But my heart wants to stay and do the tango

With you only till there’s no sky for a million dove

BADAI (BADAIAN) PASTI BERLALU

February 13th, 2007 by raininjanuary

Apa yang Anda harapkan dari akhir suatu badai? Suatu kelegaan tak terkira dan kebungahan super dahsyat tentunya. Tapi kenapa justru setelah badai yang satu ini berlalu perasaan saya tetap datar- datar saja dan hanya bergumam dalam hati, oh, sudah berakhir ya? Begitu saja? Beneran udahan nih? Apakah hanya cara mengakhiri badainya saja yang tidak memberikan efek kebahagiaan atau mungkin kah karena badainya itu sendiri? Tunggu! Badai apa? Mana Badainya?

Badai kembali datang di

Indonesia

dan katanya Badai Pasti Berlalu. Film lawas besutan Teguh Karya yang merupakan legenda perfilman

Indonesia

dan menjadi box office di tahun 70-an itu akan kembali di hadapan penonton

Indonesia

. Kali ini tentu dalam kemasan yang lebih modern. Teddy Soeriaatmadja memberanikan diri membuat remake film yang diangkat dari novel karya Marga T. Skenarionya sendiri ditulis oleh Titien Wattimena yang juga penulis skenario film Tentang Dia. 

            Saya tidak berani membandingkan Badai Pasti Berlalu versi Teddy dengan Badai Pasti Berlalu-nya Teguh Karya, karena sejujurnya saya sendiri belum pernah menonton karya fenomenal itu. Jadi mari kita coba mereview Badai yang satu ini secara independent. Anggap saja ini badai yang pertama. Film ini menceritakan tentang Siska (Raihanuun) yang sedang patah hati dan akhirnya jatuh cinta kembali dengan Leo (Vino G. Bastian). Masa indah percintaan mereka tidak berumur lama dan Siska kembali patah hati ketika mengetahui bahwa Leo hanya berusaha memenangkan hatinya untuk memenangkan taruhan dengan kawan-kawannya. Dalam kegalauan dan sakit hatinya, Siska berhasil melalui fase terpuruk akibat cinta yang kedua ini dengan lebih baik. Ia bertemu dengan Helmi (Winky) dan terjebak dalam pernikahan yang manipulatif bersama seorang abuser dan opportunist rendahan. Rasanya saya tidak perlu terlalu banyak menjabarkan jalan ceritanya. Bisa-bisa saya dimarahi Teddy karena menceritakan jalan ceritanya dari awal hingga akhir dan mengurangi interest Anda untuk menonton.

            Secara garis besar film ini memiliki dasar cerita yang menarik dengan alur cerita yang mengalir dengan apik. Bahkan mungkin terlalu apik. Karena konflik-konflik yang ada kurang dapat diangkat dengan lebih dramatis. Padahal justru itulah yang dibutuhkan dari suatu badai. Atau mungkin itulah yang diinginkan Teddy, dramatisasi yang sewajar-wajarnya untuk menghindari jebakan alur cerita yang terlalu unreal dan mengawang-awang. Tapi saya tidak heran dengan konflik yang terasa kurang menggigit. Jika pada tahun 70-an permasalahan yang muncul dalam film Badai Pasti Berlalu terasa begitu pelik, maka lain lagi ceritanya sekarang. Jaman sudah berganti,

gaya

hidup manusianya pun berubah. Apa yang luar biasa pada masa itu, tentu akan jadi biasa saja saat ini.

            Secara sinematografi Teddy akan menyuguhkan gambar-gambar yang indah dengan sentuhan yang cukup artistic. Hanya saying ada kekurangan kecil pada beberapa scene yang kurang pencahayaan. Demikian juga dalam tata suara yang sedikit menggangu di awal cerita.

            Bagaimanapun juga, badai belum berlalu. Film Badai Pasti Berlalu ini akan rilis tanggal 14 Februari 2007. Jika film ini tidak akan memberi efek sedahsyat hempasan tsunami di peta film tanah air, setidaknya Anda akan diberi hiburan yang cukup manis dari dalam negeri. Jika bukan anak negeri yang menghargai karya cipta dalam negeri, siapa lagi yang bisa? Jadi tonton, jadi penonton yang pintar serta kritis dan bangkitkan kualitas perfilman

Indonesia

. 

FLAG OF OUR FATHERS

February 8th, 2007 by raininjanuary

Sutradara         : Clint Eastwood

Produser          : Clint Eastwood, Steven Spielberg, Robert Lorenz

Screenplay       : William Broyles, Jr., Paul Taggis

Durasi              : +/- 120 menit

Not just another war movie. Itulah kredit yang pantas diberikan untuk film Flag of Our Fathers produksi DreamWorks Pictures dan Warner Bros ini. Memang anda tetap akan disuguhkan adegan brutal layaknya film peperangan yang penuh dengan pertumpahan darah, suara tembakan dan ledakan yang tiada habisnya, dan situasi menegangkan dimana para prajurit harus siap menembakkan senjatanya kapan saja bahkan saat mata mereka terpejam. Stupid chaos. Itu opini pribadi saya terhadap peperangan. Terlepas dari alasan apapun di baliknya, bagi saya peperangan adalah konsep terbodoh yang pernah diciptakan manusia. Kembali ke topik semula, karena sejak awal saya tidak ingin membahas mengenai esensi peperangan. Ini mengenai salah satu film yang layak untuk ditonton terutama di saat dunia sudah menggilai peperangan. Tuh,

kan

! Lagi-lagi saya melantur. Maaf, karena saya memiliki sentimen pribadi terhadap perang. Apa gunanya menghabiskan nyawa ribuan orang dan mengucurkan dana sekian milyar dolar hanya untuk mendapatkan yang katanya kejayaan bangsa. Come on!! Lebih baik uangnya disimpan untuk dana pendidikan dan kesejahteraan rakyat miskin. Rasanya akan lebih berguna untuk kelangsungan masa depan dunia ini. HIDUP DAMAI!! Hahahaha…

            Baiklah, sekarang saya coba sedikit berkonsentrasi dan tidak melantur lagi. Flag of Our Fathers diangkat dari sebuah novel laris karya James Bradley dan Ron Powers. Novel itu memang menceritakan mengenai bendera ayah dari penulis, John “Doc” Bradley (Ryan Phillippe) dan ayah-ayah lainnya mantan prajurit Amerika semasa perang dunia ke-II. Kisah dalam Flag of Our Fathers bermuara dari satu kejadian penting dalam sejarah Amerika, Pengibaran Bendera Amerika Serikat di Gunung Suribachi, Pulau Iwo Jima, Jepang. Satu penggal sejarah nasional Amerika pun terbentuk dari sebuah foto. Satu foto yang bercerita. Kita tidak membutuhkan ribuan kata untuk menyampaikan pesan. Cukup dengan satu foto jurnalisme dan pesan tersampaikan.

            Inilah salah satu makna yang bisa kita ambil dari film ini. Kekuatan fotografi jurnalisme dan lebih luasnya lagi kekuatan media

massa

dalam membentuk persepsi publik. Lebih hebatnya lagi bagaimana media

massa

berperan dalam membentuk sejarah dan menciptakan kebenaran. Menciptakan kebenaran? Media

massa

memang bertugas menyampaikan berita terbaru yang penting kepada khalayaknya dengan dukungan fakta dan diyakini kebenarannya. Fakta yang memang telah ada atau fakta yang diciptakan? Di situlah letak kekuatan rahasia media

massa

(dan tentunya kekuatan para penguasa di belakangnya).. Tak jarang fakta yang akhirnya diyakini kebenarannya oleh masyarakat adalah fakta ciptaan media

massa

.

            Foto pengibaran bendera di Gunung Suribachi itu menampilkan 5 tentara dan 1 tenaga medis Amerika Serikat. Pengibaran bendera itu sebenarnya merupakan kegiatan formalitas sebagai bentuk simbol kedudukan Amerika di daerah itu. Tapi ketika foto itu dimuat di media

massa

dan sampai ke tangan publik, mereka pun mempersepsikan hal tersebut sebagai tindakan kepatriotikan dan menjadikan ke-6 orang tersebut sebagai pahlawan bangsa. Dua orang tentara yang masih hidup, Ira Hayes (Adam Beach), Renee Gagnon (Jesse Bradford), dan 1 tenaga medis John “Doc” Bradley (Ryan Phillippe) ditarik dari medan perang dan diberi tugas patriot baru mengkampanyekan penjualan saham perang untuk mendanai perang yang masih berlangsung.

Pada bagian ini Anda akan menemukan cirri khas bangsa Amerika. “TOO MUCH IN EVERYTHING”. Jiwa showbiz khas

Hollywood

. Berbagai konflik terjadi antara ketiga “pahlawan” dan dalam diri mereka masing-masing. Hayes yang berbangsa Indian memiliki 2 konflik pribadi, pertama menyangkut kesukuan. Ia yang bersuku Indian merasa “berbeda” dengan yang lain sehingga menjadi sedikit sensitif, karena pada masa itu permasalahan ras masih menjadi isu panas di Amerika. Kedua, ia merasa diberatkan dengan embel-embel pahlawan dan berusaha memberontak dari label itu, hingga ia akhirnya dikembalikan ke

medan

perang. Sementara Gagnon adalah satu-satunya orang yang merasa amat nyaman dengan berbagai publisitas kepahlawanan. Orang terakhir, Doc, adalah orang paling normal di film ini, the true nice guy. Ia mengalami hal yang sama dengan Hayes, keberatan dengan segala label pahlawan yang melekat, namun berusaha menyikapi dengan lebih bijak.

Makna lain bisa dipetik dari film ini adalah, from nothing to something then from something to nothing. Betapa ironisnya bagaimana suatu bangsa memberikan penghargaan terhadap pahlawan. Mereka diibaratkan suatu komoditas yang jika sedang dalam masa jaya akan dielu-elukan dan dengan cepat akan dihempaskan kembali ke tanah. Padahal beban dan trauma peperangan yang harus mereka hadapi sangat berat dan mengerikan. Trauma yang harus mereka bawa sepanjang sisa hidup mereka dan menghantui tiap malam. Pahlawan yang sesungguhnya adalah mereka yang merasa tidak melakukan apa-apa. Pahlawan sejati adalah mereka yang sudah memberikan banyak tapi tidak meminta diberi cap pahlawan. Semangat patriotisme sesungguhnya mungkin tidak ditimbulkan oleh rasa kebangsaan. Tapi semangat patriotisme mungkin ditimbulkan oleh rasa kesetiakawanan. Sederhana, tapi bermakna.

Rekomendasi saya, layak ditonton. Bercerita dengan alur mundur yang melompat-lompat, Anda akan dipaksa untuk menyimak dengan baik mulai dari awal hingga akhir. Tidak ada yang istimewa dari adegan peperangannya, tapi makna yang ada di dalamnya jauh lebih menarik untuk diperhatikan. Jika Anda cukup peka, Anda akan belajar menjadi manusia yang lebih menghargai jiwa sejati manusia. Bagi saya, sebagai wartawan, film ini mengajarkan saya lebih berhati-hati dalam menyampaikan fakta.

Muse-ku: Aku, Diamku, dan Khayalku

January 22nd, 2007 by raininjanuary

Ia duduk di atas bukit, di bawah pohon oak yang besar

Tempat favoritnya untuk menyendiri dan merenung

Kenapa?

Karena dari atas bukit ia bisa melihat luasnya dunia

Karena di bawah pohon oak dia merasa terlindungi

“Aku melihat luasnya dunia dan

betapa ku ingin mengepakkan sayap menjelajahi dunia

Tapi aku menyadari betapa kecilnya diriku dan

betapa tak berartinya aku

Aku menemukan tempat bernaung di bawah pohon oak

Pohon besar yang juga sendirian di atas bukit

Aku tahu ia akan selalu ada untukku

Memelukku dengan kerindangan dahannya

Menemaniku menatap cakrawala yang tak berujung

Tak jarang kumengadu padanya

Tak jarang air mataku membasahi dahannya

Tak jarang juga kubagi tawaku dalam diamnya

Ia tak pernah mengeluh

Tak pernah marah meski ku kadang lama tak datang

Tapi ku tahu dalam diamnya ia ada

Kali ini kukembali padanya

Kali ini ku berlari ke dalam pelukannya

Kali ini ku terpaku, terdiam tanpa ada tangisan atau amarah yang dapat kutumpahkan

Meski sebelumnya aku sangat marah, aku sangat sedih

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya

Aaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhh………..!!!!!!!!!!!!!!

Tapi aku tak bisa

Ia diam, tak bertanya ada apa denganku

Meski ku tahu sebenarnya ia bertanya-tanya

Karena ia tahu aku tak butuh tanya, aku tak butuh apapun

Aku hanya butuh diamnya dalam sendiriku

Aku hanya butuh ia ada untukku

Aaaah…ku mendesah

Aku pun duduk di pangkuannya

Kali ini ditemani teman ku yang lain

Semilir angin sejuk yang membelaiku lembut

Kukembali menatap cakrawala

Bersama diamnya…

Lama aku terdiam

Hingga kadang aku jatuh tertidur di sebelahnya

Daun-daunnya akan menggelitikku pelan

Membangunkanku kembali ke alam nyata

Sudah…kembali lah…pulang lah

Kerjakan apa yang harus kau selesaikan

Uugh…kumeregangkan otot-ototku

Malas rasanya aku kembali

Betapa damainya dunia di atas bukit ini

Bersamamu…

Aku akan selalu ada di sini

Kau bisa kembali kapan saja sesuka yang kau mau

Tak pernah terlambat untuk kembali ke sini

Tapi kau mungkin terlambat untuk hal yang lain

Lagi-lagi aku terdiam…

Ayo lah…

Aku sudah bosan dengan diammu

Aku akan menunggumu dengan ceritamu di sini…”

NO VOICE, NO FEEL

December 20th, 2006 by raininjanuary

Nov 26 ’06

(

00:35 am

)

Kenapa sedikit pun kau tidak mau memikirkan apa yang melukaiku

Kenapa sedikit pun kau tidak mau peduli bahwa ketidakpedulianmu

Membuatku menangis

Kenapa sedikit pun kau tidak mau memahami apa yang ada di hatiku

Kenapa yang kau pikirkan hanya apa yang ada di otakmu

Kenapa yang kau pikirkan hanya apa yang kau pikirkan

Kenapa yang kau pedulikan hanya apa yang ada di hatimu

Menurutmu…maumu…rasamu…

Kau…kau…kau…dan kau

Bukankah sekarang adalah kita

Yang berarti

Kau dan aku

Tapi tetap saja kau bertahan dengan

Menurutmu…maumu…rasamu…

Jangan salahkan diri ini jika suatu saat nanti ia berhenti bersuara

Karena jika saat itu tiba

Diri ini berhenti bersuara bukan karena rasa pengertian yang luar biasa

Diri ini akan berhenti bersuara karena ia sudah berhenti merasa!

Nilai Kesetiaan

December 20th, 2006 by raininjanuary

Apakah arti kesetiaan? Masihkah kesetiaan memiliki nilai di mata dan hati manusia? Semakin mata ini terbuka terhadap dunia, semakin banyak cerita perselingkuhan yang terlihat. Keraguan akan keberadaan nilai kesetiaan pun semakin tebal. Ditambah lagi setelah menonton Desperate House Wife, ketika Carlos Solis yang begitu mencintai istrinya pada akhirnya tergoda untuk berselingkuh dengan housemaid-nya atau suami Lynette yang sesungguhnya tipe suami close to perfection ternyata menyimpan rahasia dari hubungan masa lalunya. Saya pun memperburuk persepsi saya akan kesetiaan dengan membaca kumpulan cerpen Tamara Geraldine “Kamu Sadar Aku Punya Alasan

Untuk Selingkuh

,

kan

, Sayang?”, dan mendengar kisah beberapa teman yang berselingkuh ataupun diselingkuhi. Jangan bilang kalau saya terlalu banyak menonton drama dan membaca novel picisan yang didramatisir. Face it, affairs happen around us, really close in d corner.

            Saya bukannya berlagak sok suci. Saya bukannya tidak pernah “bersenang-senang” dengan orang lain selain kekasih. Tapi kesemuanya itu tidak pernah berjalan benar-benar “menyenangkan”. Dan tentunya tidak lama. Katakan saja kesenangan 1 hari or whatever. Well, semuanya masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu, baik ataupun buruk. Pengalaman disakiti dan menyakiti menjadikan saya lebih berhati-hati dalam berhubungan. Berhati-hati dalam menjaga hati pasangan dan menjaga hati saya sendiri.

            Semakin saya dewasa, semakin saya menyadari bahwa kesempatan untuk berselingkuh selalu ada. Like wise men said, human never satisfied. Dapat nol ingin satu. Dapat satu ingin dua. Dan seterusnya. Meski sebagian berusaha membenarkan, “yang penting

kan

tidak pakai hati. Toh, yang utama tetap pasangan resmi.” Lagi-lagi pembenaran semu! Jika masih berpacaran mungkin masih bisa ditolerir (mungkin lho!). Ingat, toleransi bukan berarti menjadikan sesuatu yang salah terlihat benar. Toleransi hanyalah perspektif terhadap suatu permasalahan dengan lebih bijak melihat unsur sebab dan akibat. Tapi tetap saja berselingkuh ya berselingkuh, dalam keadaan masih berpacaran, bertunangan ataupun sudah resmi menikah.

            Justru tahap inilah yang penting dalam fase interpersonal communication. Tahap dimana kita bisa mengeksplor pasangan sebelum akhirnya memutuskan that he or she is d rite one. Meskipun sebenarnya tidak ada jaminan juga kalau selagi jadi pacar setia, maka dia akan menjadi suami atau istri yang setia juga. Sumpah mati saya jadi semakin takut terlibat dalam relationship!

            Tidak ada ego manusia yang rela diduakan! Jika seseorang telah mencinta, tentunya ia ingin menjadi d only one. Siapa yang rela jika harus berbagi? Tidak usah berbagi dengan makhluk bernama rival, berbagi dengan hobi pasangan pun kadang bukan hal yang mudah. Tuhan, masih adakah nilai-nilai kesetiaan di hati manusia? Masih adakah di hatinya?

            Tapi perlu ada kesamaan persepi tentang selingkuh. Hubungan seperti apakah yang bisa dibilang selingkuh? Kalau sekedar berjalan berdua sepulang kantor? Atau sekedar merindukan kehadiran sosok lain yang terkadang membuat hari-hari lebih ceria dengan semangat hidupnya? Lupakanlah kontak fisik yang jelas-jelas sudah mengotori nilai-nilai suatu komitmen. Apakah hal-hal kecil itu tanpa disadari merupakan bagian dari affair? Sebut saja saya manusia egois yang hanya menginginkan pasangan saya memikirkan saya seorang, mengingat saya ketika ia dalam senang ataupun susah. Hanya saya! Tidak ada orang lain!

            Buat apa mencinta jika pada akhirnya akan berbuah rasa sakit? Siapa yang rela memberikan hati jika pada akhirnya akan hancur berkeping-keping. Semua manusia tentu mengharapkan kebahagiaan. Siapa yang menginginkan merasakan insecure dalam hubungan? Sumpah mati, semakin aku mengenalnya semakin aku takut. Semakin aku mengetahuinya, semakin aku tidak mengenalnya.Apakah saya perlu memilih tidak tahu? Tapi saya tidak ingin menjadi buta dan terlalu naïve dalam berpikir. All I want is feeling secure. Yang kubutuhkan hanya perasaan damai bahwa saya telah mempercayakan hati saya di tangan yang tepat.

            Like I said, semakin dewasa saya juga ingin menjalani hubungan dengan lebih dewasa. Relationship that based on trust. Tapi kepercayaan tidak bisa dibentuk semudah membalikkan telapak tangan bukan? Bahkan kadang hal-hal kecil amat sangat berpengaruh dalam membangun rasa percaya. Saya ingin menjalani semuanya sebaik mungkin, dengan cara yang benar. Tidak ingin mengecewakan orang yang saya sayang dan tidak ingin dikecewakan oleh orang yang saya sayang. Maafkan saya jika saya meragukanmu sayang. Sampai kapan saya akan terus meragukan dan tak mempercayaimu? Sungguh, saya sama sekali tidak menikmati perasaan ini. But this feeling is unavoidable. Mungkin saya hanya terlalu menyadari bahwa dibalik kebahagiaan ada kepahitan. Dan jika kita telah siap jatuh cinta, berarti kita juga harus siap sakit hati. Damn! Kenapa sesuatu yang begitu indah harus disandingkan dengan kebusukan?!

Maafkan saya jika saya akhirnya hanya bisa memberikan 70% rasa percaya saya, sayang. Biarkan saya menyisakan 30% for my heart insurance. Bukan! Sisa 30% itu bukan untuk selalu meragukanmu. But you’re just so unpredictable and my heart is to fragile. Though I love you so much…

Amor, Au Revoir

December 20th, 2006 by raininjanuary

Aku pernah dikhianati dan mengkhianati. Aku pernah berpaling dan pernah ditinggalkan. Kukira semua itu cukup untuk memahami tentang makna cinta. Kukira semua itu cukup untuk tidak menjadikanku manusia yang mudah terbuai dalam irama cinta. Ternyata aku masih selugu aku yang tidak tahu apa-apa. Apakah benar ketika ada rasa cinta, maka ketulusan hati akan terjamin? Apakah benar cinta tidak menuntut?

Meski jawaban-jawaban pertanyaan itu telah dijelaskan beribu kali oleh tangis yang berurai dari mata bodoh ini. Meski penjabaran atas kepercayaan lugu itu telah terjawab oleh sakit yang diderita hati lemah ini. Tetapi kesalahan yang sama seringkali terulang. Air mata yang sama seringkali mengalir. Rasa sakit yang sama dan bahkan lebih sakit seringkali mendera. Untuk yang ke sekian kalinya. Lebih bodohkah aku dari keledai? Lebih bodohkah aku dari keledai terbodoh karena tak berhenti berharap?

Tidak perlu menguasai ilmu filsafat untuk mengetahui bahwa tidak ada cinta setulus kasih sayang ibu. Tidak perlu menguasai isi Al-Qur’an untuk mengetahui bahwa cinta tulus hanya bisa diberikan kepada sang khalik. Tidak perlu! Tidak perlu! Tidak perlu…

Ketika hati ini membuka pintunya dan memberikan seluruh ruangnya untuk tempatmu bernaung, tanpa kau sadari kau menorehkan luka yang cukup dalam. Luka yang tak nyata. Luka yang tak mengeluarkan warna merah darah. Luka yang tidak menggoreskan garis. Tapi meninggalkan bekas yang tak tersapukan. Meninggalkan sakit yang tak terhapuskan. Luka yang pada akhirnya memberikan keraguan akan makna cinta. Luka yang pada akhirnya memberikan keraguan akan keputusan mencintai. Luka yang memberikan ruang bagi keraguan akan cinta.

Cinta antar manusia adalah sesuatu yang manusiawi. Karena cinta bisa menyakiti selain mengasihi. Seperti Yin dan Yang. Cinta adalah suatu keseimbangan. Memberi, menerima. Memahami, dipahami. Tertawa, menangis. Memberikan kebahagiaan, memberikan kesedihan.

Maafkan aku jika menuntut terlalu banyak darimu cinta. Maafkanlah gadis bodoh dan lugu yang tidak bisa belajar dari pengalaman ini. Maafkan juga jika untuk saat ini aku tidak ingin melibatkanmu dalam kehidupanku lagi. Kurasa untuk saat ini aku akan lebih bahagia menggantikanmu sepenuhnya dengan logika. Menjalani semuanya dengan hati dingin. Memberikan perisai terkuat untuk hatiku. Karena aku belum siap untuk merasakan sakit. Karena luka yang dulu pernah kau torehkan masih tertinggal…utuh…tanpa kau mampu menyembuhkannya.

Gadis lugu dan bodoh itu telah memutuskan tak akan ada yang mampu menggoyahkannya. Gadis lugu dan bodoh itu telah menyimpan cintanya dalam ruang yang terkunci rapat. Dan jangan salahkan dia…jika dunia merindukan dirinya yang (dulu) penuh cinta.

K A U

December 4th, 2006 by raininjanuary

Kau datang seperti cahaya bintang kecil

Yang kerlipnya nyaris tak terlihat

Di antara kerlip bintang lainnya

Dan gemerlapnya purnama

Kau melangkah dengan pelan

Seakan tak ingin kehadiranmu menimbulkan tanya

Sangat pelan hingga justru kau menarik perhatian

Seperti kedamaian yang mencuat di tengah pekaknya hidup

Kau nyaris tak bersuara, kau hanya tersenyum

Tapi dalam diammu kau berkata banyak

Jauh lebih bermakna dengan senyum rahasiamu

Dibandingkan suara-suara yang membutuhkan pengakuan

Kau mempesonaku dalam kesederhanaan

Kau menjeratku dalam damaimu

Kau membungkamku dalam diammu

Kau…aku tak sanggup berkata lagi

Bukan Untukku

December 4th, 2006 by raininjanuary

Jangan mengulurkan tanganmu

Karena ku tak kan pernah bisa menyambutnya

Jangan mengulurkan tanganmu

Karena kau tahu ku tak sanggup menepisnya

Jangan memberikan senyummu

Karena ku tak kan bisa melupakannya

Jangan memberikan senyummu

Karena aku tak boleh membalas senyummu

Jangan tatap mataku

Karena ku menemukan dunia yang indah di dalam matamu

Jangan tatap mataku

Karena tatapanmu menenggelamkan jiwaku

Jangan membuatku tertawa

Karena dunia terasa begitu menyenangkan bersamamu

Jangan membuatku tertawa

Karena aku tak bisa menikmati dunia bersamamu

Jangan…aku mohon jangan…

Jangan menjadi dirimu

Karena pada dirimulah ku terpesona

Dan pesona itu tidak pantas kunikmati

Tidak saat ini…tidak nanti…dan tidak kapan pun jua

Mungkin bukan saat ini…mungkin nanti…

Tapi bukan untukku